CANDRA BIRAWA

  • 0


 

 

 

 

 

 

 

Inilah Aji Candrabirawa milik Prabu Salya yang menyerang Puntadewa di perang Bharatayudha hari ke-18. Wujudnya ribuan raksasa kecil dengan naluri keganasan yang mengerikan. Namun kali ini Candrabirawa kena batunya. Sepanjang hidupnya Puntadewa tidak pernah membenci sesamanya. Walau pun itu musuhnya. Oleh karenanya ketika dirinya dipaksa menjadi senapati perang, ia membiarkan dirinya diserang oleh musuhnya, dan tidak sekali-pun membalas. Apalagi membunuh raksasa-raksasa Candrabirawa. Malahan ia membiarkan darahnya dihisap oleh raksasa ganas itu. Darah yang putih, darah yang suci yang dimiliki Puntadewa itulah yang mengalakan keganasan Candrabirawa.

 

This is Prabu Salya's Aji Candrabirawa who attacked Puntadewa in the 18th day of the Bharatayudha
 war. It was in the form of thousands of tiny giants with a terrible instinct for ferocity. But this time 
Candrabirawa hit the stone. All his life Puntadewa never hated each other. Even though that was his
 enemy. Therefore, when he was forced to become a warrior, he allowed himself to be attacked by his 
enemies, and never retaliated. Moreover, killing the Candrabirawa giants. Instead he let his blood be 
sucked by the ferocious giant. White blood, the sacred blood possessed by Puntadewa is what ignites 
Candrabirawa's ferocity.
 
oil on canvas
150 x 80 cm
herjaka H\hs 2020

 

 

 

Dua Menjadi Satu

  • 0


























Dua Menjadi Satu
Mangga disilakan. Semoga kalian senantiasa sehat walafiat dan bersama-sama mencapai umur panjang.
Doa yang sama dipanjatkan kepada pasangan yang telah dipersatukan dan sepakat naik dalam satu kereta untuk menyusuri jalan kehidupan yang kadang berliku.

Two Become One
Please. We wish you all the best health and together a long life.
The same prayers are offered to couples who have been united and agreed to take a train to go along the sometimes winding path of life.

Ink on paper
18 x 25 cm
Karya herjaka hs 2007


JALAN BELASKASIH

  • 0


JALAN BELASKASIH

Jalan belaskasih bukanlah jalan bagi orang-orang yang tidak peduli akan penderitaan sesamanya. Juga bukan jalan mereka yang pura-pura tidak tahu akan penderitaan orang lain. Jalan Belaskasih adalah jalan setiap hati  yang terketuk akan derita sesamanya dan dengan tulus dan tanpa pamrih turun tangan untuk menolongnya.

WAY of COMPASSION
The way of compassion is not a way for people who don't care about the suffering of their fellowmen. Nor is it the way of those who pretend not to know about the suffering of others. The Way of Compassion is the path of every heart that is tapped by the pain of others and sincerely and unconditionally intervenes to help it.

ink painting on paper
35 x 25 cm
the work of herjaka HS 2019

KERETANYA DIHELA SERIBU MALAIKAT

  • 0

































Di saat Puntadewa yang dijuluki ‘Ajathasatru’ yang artinya tidak bermusuh, maju perang menghadapi Prabu Salya. Konon yang dihadapi Puntadewa mempunyai aji Candrabirawa, sebuah ajian berupa raksasa ganas. Raksasa itu akan berlipat jumlahnya jika diperangi. Satu raksasa dibunuh akan menjadi dua, dua dibunuh menjadi empat, empat menjadi enambelas dan seterusnya. Tidak hanya itu, aji Candrabirawa juga disertai dengan penyakit-penyakit aneh yang menyerang dengan membabi buta, sehingga memakan banyak korban. Namun kali ini Aji Candrabirawa menemui batunya. Puntadewa tidak melawannya apalagi membunuh raksasa itu, sehingga raksasa itu tidak menjadi banyak. Karena tidak diserang, Raksasa Candrabirawa menggigit Puntadewa untuk memancing amarahnya. Namun Puntadewa tidak marah. Malahan ia membiarkan darahnya dihisap oleh raksasa ganas itu. Tiba-tiba Raksasa Candrabirawa melepaskan gigitannya, ia berguling-guling kesakitan seperti habis meminum racun. Karena yang dihisap bukan sembarang darah, tetapi darah putih yang hanya dimiliki oleh Manusia Ajathasatru. Dengan kekalahan Candrabirawa, Prabu Salnya sebagai pemilik ajian tersebut mengaku kalah dan menyerahkan hidupnya  kepada Puntadewa. Salya pun gugur di penghujung Perang Bharatayudha hari ke 18. Bersamaan dengan sirnanya Aji Candrabirawa, penyakit aneh yang menyerang rakyat Pandhawa pun lenyap.

The train was hailed by a thousand angels.
When Puntadewa, nicknamed "Ajathasatru" which means not hostile, went to war against King Salya. It is said that faced by Puntadewa has Candrabirawa aji, a spell in the form of a ferocious giant. The giant will multiply if fought. One giant killed will be two, two killed to four, four to sixteen and so on. Not only that, aji Candrabirawa is also accompanied by strange diseases that attack blindly, so it takes many victims. But this time Aji Candrabirawa met his stone. Puntadewa did not fight him let alone kill the giant, so that the giant did not become many. Because it was not attacked, Giant Candrabirawa biting Puntadewa to provoke his anger. But Puntadewa was not angry. Instead he let his blood be sucked by the ferocious giant. Suddenly Giant Candrabirawa let go of his bite, he rolled around in pain as if he had drank poison. Because what is sucked is not just any blood, but white blood which is only possessed by Ajathasatru Man. With Candrabirawa's defeat, Prabu Salnya, as the owner of the spell, claimed defeat and gave his life to Puntadewa. Salya was killed at the end of the Bharatayudha War day 18. Along with the disappearance of Aji Candrabirawa, the strange disease that attacked the Pandhawa people vanished.

ink on paper
70 x 50 cm
the work of herjaka hs 29 April 2006

JAYABAYA dan SEMAR

  • 0



























       
Sri Aji Jayabaya adalah Raja Kediri yang memerintah pada 1135 – 1157, Beliau merupakan titisan Dewa Wisnu yang adalah Dewa pemelihara dunia, yang bertugas mengharmonisasikan antara alam dan seluruh ciptaan. Dalam suasana Pandemi penyakit ini, Dewa Wisnu menemui manusia dengan diselimuti awan hitam pekat. Walaupun tanpa bicara  beliau menampakan kekecewaannya serta kesedihannya. Kecewa karena manusia tidak membantu tugasnya untuk memelihara dan merawat alam, bahkan telah merusak ekologi alam. Bersedih karena, akibat kerusakan tersebut, muncul penyakit pembunuh yang menyerang manusia di seluruh dunia, dan tidak ada obatnya.
Ketika manusia yang ditemui tersebut menanyakan bagaimana solusinya?, Sri Aji Jayabaya segera lenyap. Dibalik awan hitam tempat Sang Raja Kediri itu musnah, nampaklah sosok Eyang Semar duduk bersila di depan gunung. Seperti halnya Sri Aji Jayabaya, pamomong manusia sepanjang jaman itu tidak mengatakan sesuatu, tetapi tangannya menuding untuk menunjukkan jalan agar terhindar dari pagebluk atau pandemi ini. Manusia pun menyadari kesalahannya bahwa selama ini telah meninggalkan dan menutupi Eyang Semar yang adalah Dewa yang menjelma pamomong, untuk mengajak manusia mencintai alam, mencintai sesama manusia dan mahkluk hidup lainnya dan mencintai Tuhan dengan segenap akal budi serta hati yang tulus.  
Ketika memandang gunung tempat Eyang Semar duduk bersila mengeluarkan asap putih, rasa optimis pun tumbuh, ada pertanda bahwa suasana yang gelap akan berangsur-angsur lenyap dan berganti terang benderang.

Kisah mimpi Galuh Kencana yang dilukis oleh herjaka hs.
oil on canvas
63 x 100cm
karya herjaka hs  ke 2642 tahun 2020
 
Sri Aji Jayabaya is the King of Kediri who ruled in 1135 - 1157, he was the incarnation of Lord Vishnu who was the guardian god of the world, whose task was to harmonize between nature and all creation. In the atmosphere of this disease pandemic, Lord Vishnu met human beings covered in deep black clouds. Although without speaking he expressed his disappointment and sadness. Disappointed because humans do not help their duty to preserve and care for nature, it has even damaged the ecology of nature. Sad because, due to the damage, there is a killer disease that attacks humans around the world, and there is no cure.
When the human being was asked asked how the solution ?, Sri Aji Jayabaya vanished immediately. Behind the black clouds where the King of Kediri was destroyed, there was the figure of Grandmother Semar sitting cross-legged in front of the mountain. Like Sri Aji Jayabaya, the human guide throughout the ages did not say anything, but his hand pointed to show the way to avoid this pandemic or pandemic. Humans also realize their mistakes that so far have left and covered Grandmother Semar who is a God who incarnated pamomong, to invite people to love nature, love fellow human beings and other living creatures and love God with all the mind and a sincere heart.
When looking at the mountain where Eyang Semar sat cross-legged issued white smoke, a sense of optimism grew, there were signs that the dark atmosphere would gradually disappear and turn brightly lit.

The story of Galuh Kencana's dream painted by Herjaka hs.