Gonjang-Ganjing Kesetiaan 15

  • 0



























"Hyang Yama, bagaimana aku bisa mempunyai anak jika nyawa Setiawan suamiku engkau cabut?"
oil on canvas 100 x 150cm, lukisan herjaka HS 2016  


Sawitri Oh Sawitri 

herjaka HS

(15) Kesetiaan

Sang Hyang Yamadipati terkesiap. Wajahnya pucat. Warna merah pada mukanya memudar.  Ia tersadar, tidaklah mungkin Sawitri mempunyai anak tanpa kehadiran Setiawan. Tetapi, dengan cekatan ia pun kemudian menemukan jawaban dan berkata.
“Lho! Bukankah kamu dapat menikah lagi. Engkau diciptakan sebagai wanita normal dan masih muda, apa susahnya untuk mengandung serta melahirkan anak?”
Ucapan Hyang Yama kali ini benar-benar membuat Sawitri nglokro kehilangan semangat, untuk memperjuangkan sebuah kesetiaan. Hatinya terpukul atas kata-kata Hyang Yama yang menganggap ringan untuk melupakan perkawinannya dengan Setiawan. Badannya menjadi lemas. Ia merebahkan diri di kaki Hyang Yama, dan matanya basah oleh airmata.
“Dhuh Sang Hyang Yama, dewa kematian yang berkuasa, aku telah berjanji setia kepada Setiawan seumur hidupku, dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, dalam untung dan malang.”
“Tapi kematian telah menghentikan janji setiamu, Sawitri. Setiawan telah mati dan nyawanya ada di tanganku. Lewat kematian ini, ia telah memasuki pintu gerbang menuju alam keabadian.
Setiap orang, tidak terkecuali, akan memasuki keabadian melalui kematian. Tugasku adalah mencabut nyawa seseorang yang sudah tiba ajalnya, serta mengantarkannya ke alam keabadian, seperti yang aku lakukan terhadap Setiawan saat ini.
Jika pada saat kematian menyemput, orang tersebut  hatinya suci dan jiwanya damai, maka kesucian dan kedamaian yang ada akan aku bawa serta ke alam keabadian untuk diabadikan. Dengan demikian di sana ia akan menikmati kesucian dan kedamaian selama-lamanya. 
Demikian pula sebaliknya, setiap orang yang mati dengan pikiran kotor, serta menyisakan dendam dan  iri dengki, maka kotoran yang menempel, dendam, dan iri dengki yang disimpan akan diabadikan. Di sana ia akan terbakar oleh dendamnya, serta merasakan panas atas kedengkiannya untuk waktu yang tak berkesudahan.  
Dan aku tahu bahwa Setiawan dalam hidupnya senantiasa mengutamakan kerendahan hati, keluhuran budi, dan kesetiaan. Oleh karena itu nilai-nilai utama dan luhur yang telah dihidupi Setiawan diabadikan di alam keabadian.
Maka, biarlah Setiawan menikmati kebahagiaan selamanya di alam keabadian bersama Sang Maha Pencipta, sedangkan engkau dapat bersuami lagi untuk memberikan keturunan seperti yang telah aku janjikan.”
“Tidak, Hyang Yama. Aku tidak akan bersuami lagi. Suamiku hanya satu, Setiawan.  Walaupun Setiawan telah mati, aku masih mencintainya serta merasakan cintanya. Jika cinta dan kesetiaan Setiawan telah diabadikan lewat kematian, aku pun akan mengabadikan cinta dan kesetiaan ini dalam kehidupan. Karena jika kesetiaan ikut mati, lalu bagaimana dengan hidup? Apakah tidak ada kesetiaan di dalamnya?
Bagiku, kesetiaan itu abadi. Ia akan terus hidup walaupun yang menghidupi sudah mati. Kesetiaan akan berpindah kepada yang hidup. Jika yang hidup tidak menghidupi kesetiaan, ia akan bergeser kepada orang lain yang dengan setia mau menghidupi kesetiaan tersebut.
Demikian pula dengan kesetiaan yang aku ikrarkan berdua, selalu aku hidupi dan akan aku wariskan kepada penerusku, kepada anak-anakku yang telah dijanjikan oleh Hyang Yama.” Kata Sawitri.
Sang Hyang Yamadipati menunduk, memandangi Sawitri yang sedang meremas-remas jubahnya dengan jari-jarinya yang lentik.  Ia telah kalah janji, dan sebagai dewa, ia pantang mengingkarinya. Dalam hati, Hyang Yama berkata
ternyata masih ada wanita di dunia ini yang mempunyai kesetiaan seperti Sawitri.
Hal itulah yang membuat Yamadipati terpana. Tidak hanya karena kecerdasan dan kecantikan Sawitri, tetapi terlebih karena kesetiaan yang dihidupi serta diperjuangkannya.
Pikiran Sang Hyang Yamadipati menerawang jauh. Ia membandingkan Sawitri dengan Dewi Mumpuni, istrinya. Seandainya saja Dewi Mumpuni mempunyai cinta dan kesetiaan seperti halnya Sawitri, betapa bahagianya hidup Hyang Yama.
Mengingat kembali perjalanan hidup yang telah dilalui, mata Sang Hayang Yamadipati pun menjadi basah, hampir saja air matanya menetes. Ia dahaga akan kasihsetia seorang wanita yang cantik dan cerdas seperti Sawitri.
(bersambung)

Gonjang-ganjing Kesetiaan 14

  • 0











































Tepat tengah hari yang panas terik, Setiawan jatuh kehabisan tenaga. ajalnya sudah dekat.
oil on canvas
110 x 90 cm
lukisan herjaka hs 2017

Sawitri Oh Sawitri
herjaka hs


(14) Menjemput Kematian



Hari yang mendebarkan dan sekaligus menakutkan pun tiba. Pagi itu tepat setahun usia perkawinan Setiawan dan Sawitri. Sawitri sengaja memperlambat bangun, takut menemui matahari yang sinarnya mulai hangat. Jikapun ia mau menemui matahari, ia ingin mengatakan, “Hai matahari berhentilah berlama-lama agar sinarmu tetap hangat. Jangan berubah menjadi siang yang terik!”

Seperti yang diramalkan para nujum istana bahwa wanci bedug tengange saat mentari berada tepat di tengah,  Setiawan akan mati. Jika Sawitri sangat takut menghadapi kematian suaminya, tidak demikian halnya dengan Setiawan. Ia tetap melakukan kegiatan sehari-hari, mencari kayu di hutan, tanpa takut dan cemas. Jika pada hari sebelumnya, ketika Setiawan berpamitan untuk pergi ke hutan, Sawitri mengantarnya hanya sampai di pintu pagar halaman, hari ini Sawitri tidak tega melepas Setiawan sendirian. Ia ingin menemani suaminya mencari kayu di hutan. 

Waktu pun seakan-akan memperlambat jalannya karena belum tega berpisah dengan pemuda tampan yang rendah hati dan luhur budi itu. Demikian pula Sawitri. Ia tidak tega membiarkan Setiawan menjemput ajal sendirian. Sawitri ingin mendampinginya sangat dekat, sembari memohon diberikan jalan terbaik bagi mereka berdua.

Setelah hampir separuh hari mengumpulkan kayu, waktu Setiawan pun tinggal sedikit. Tanda-tanda akan datangnya Dewa Pencabut Nyawa semakin kentara. Setiawan kehabisan tenaga. Badannya lemas tak berdaya. Untunglah Sawitri berada disampingnya, sehingga tubuh Setiawan yang terkulai tidak jatuh di tanah, melainkan berbaring dipangkuan Sawitri.

Saatnya telah tiba. Ditengarai dengan gemuruh suara angin, keadaan pun menjadi gelap. Suasana menjadi beku dan mencekam. Tiba-tiba dari kegelapan itu muncul sosok yang mengerikan. Mukanya merah menyala, berkulit merah, dan berpakaian serba merah.

Siapakah dia? Dia adalah Sang Hyang Yamadipati, dewa pencabut nyawa. Menurut silsilahnya, ia adalah anak Sang Hyang Ismaya atau Semar  yang berpasangan dengan Dewi Kanestren.

Yamadipati mempunyai sepuluh saudara kandung, yaitu: Sang Hyang Bongkokan, Sang Hyang Patuk, Sang Hyang Temboro, Sang Hyang Surya, Sang Hyang Wrehaspati, Sang Hyang Candra, Sang Hyang Kamajaya, Sang Hyang Kwera, Dewi  Darmanastiti, dan Dewi Superti.

Sebagai dewa, Yamadipati diberi dua tugas yang tidak ringan, yaitu sebagai dewa pencabut nyawa dan dewa penunggu neraka.  Sebagai dewa pencabut nyawa ia disebut Dewa Kematian, sedangkan sebagai penunggu neraka ia diberi nama Sang Hyang Petraraja, yang berarti rajanya neraka, atau Sang Hyang Yamakingkarapati yang artinya panglima dari makhluk-makhluk Kingkara atau makhluk penjaga neraka.

Dikarenakan dua tugas yang menyeramkan dan menakutkan itu, setiap orang takut berjumpa dengan dirinya. Namun, sesungguhnya ia adalah dewa yang berhati lembut, sabar, dan penuh kasih.

Ia adalah dewa yang luar biasa. Bagaimana tidak? Ia dapat memadukan dua kehidupan yang saling bertentangan, yaitu kehidupan batin yang merupakan jagat kecil dan kehidupan lahir yang merupakan jagat besar. Di jagad kecil ia menjaga nurani  agar tetap lembut, sabar dan welas asih. Sementara itu, di jagat besar ia begumul dengan kematian dan “penyiksaan.”

Pada waktu menjalankan tugas mencabut nyawa seseorang yang sudah sampai pada janjinya, dewa yang satu ini masih dapat mengekspresikan kelembutannya. Demikian juga ketika menunggui orang-orang yang  kepanasan dibakar api neraka, ia masih mampu memelihara kasihnya.

Kemana pun dewa tinggi besar berwajah merah itu pergi, tangannya selalu menggenggam gulungan dadung, sejenis tali tambang berukuran besar. Dadung itulah yang dipakai Yamadipati untuk mencabut nyawa. Bagaikan seekor ular yang sangat ganas, dadung itu bergerak sangat cepat mematuk ubun-ubun korban untuk mengambil nyawanya.

Seperti siang yang gelap itu, tampar dadung di tangan Hyang Yamadipati, telah bergerak sangat cepat mematuk ubun-ubun Setiawan. Dalam sekejap nyawa Setiawan sudah berada di tangan Sang Hyang Yamadipati. Sawitri melihat dan merasakan bahwa Setiawan benar-benar telah mati. Tubuh Setiawan yang ada dipangkuannya menjadi semakin dingin.

Sawitri mencoba menenangkan diri. Dengan sangat hati-hati tubuh Setiawan dibaringkan di tanah, kemudian Sawitri bersimpuh menyembah Sang Hyang Yamadipati. Sembari menurunkan sembahnya pelan-pelan, Sawitri memberanikan diri memandang wajah Sang Hyang Yamadipati dengan penuh hormat.

Diakuinya bahwa wajah itu sungguh menyeramkan, namun jika seseorang berani menatap wajah Dewa Kematian dengan hati yang damai dan jiwa yang pasrah, niscaya ia akan merasakan belas kasih serta keteduhan yang memancar dari sorot matanya. Sang Hyang Yamadipati pun menatap tajam mata Sawitri yang bening seperti telaga, sebelum berbalik meninggalkan tempat itu. Dan siang pun kembali terik. (bersambung)

Gonjang-Ganjing Kesetiaan 13

  • 0










































Ibu Marganingsih (Ibu adalah jalan kasih)
oil on canvas
110 x 90cm
karya herjaka hs 2017

Sawitri Oh Sawitri
herjaka hs

(13) Mengawali dari Nol



Tidak ada yang luar biasa pada kehidupan pasangan baru tersebut di Arga Kenanga. Setiawan dan Sawitri menjalani kehidupan rutin sehari-hari seperti orang-orang pada umumnya ketika mulai membangun hidup berumah tangga.

Tekad Sawitri telah bulat, ingin bersama Setiawan menjalani hidup yang telah dianugerahkan. Mereka pun telah sepakat untuk bersama-sama bertekun menghidupkan dan menghidupi cinta dan kesetiaan dengan penuh pengharapan untuk memayu hayuning bawana.

Hari-hari mereka dinikmati dan disyukuri dengan penuh suka cita.  Selain berperan sebagai pendamping suami, Sawitri secara khusus juga melayani Begawan Jumatsena, ayah mertuanya, yang buta.

Namun, di balik kehidupan yang biasa-biasa saja itu, ada nilai-nilai luhur yang ditawarkan keluarga baru tersebut, yaitu kesetiaan, kerendahan hati, ketulusan, kesabaran dan keluhuran budi.

Tidak berlebihan jika kehadiran Sawitri di keluarga Jumatsena yang menghidupi nilai-nilai tersebut, dapat diibaratkan seperti telaga tiban telaga yang tiba-tiba tersembul dari bumi Arga Kenanga, telaga yang menawarkan kejernihan, kesegaran, serta keindahan bagi orang-orang di sekitarnya. 

Dalam menjalani hidup berumah tangga, Setiawan dan Sawitri telah membuktikan kesetiaan mereka. Mereka saling menghidupi serta saling memperbarui janji perkawinan yang telah diguratkan di dalam hati mereka. Janji akan selalu mencintai, dalam suka maupun duka, dalam untung maupun malang, serta dalam sehat mau pun sakit.

Waktu pun merambat pasti, tidak terasa hampir setahun Sawitri meninggalkan kotaraja serta keluarganya untuk mengikuti suaminya di pertapaan. Lima hari menjelang setahun usia perkawinan mereka, Sawitri bertanya kepada Setiawan,

“Kakang lima hari lagi usia perkawinan kita genap satu tahun. Adakah yang menggelisahkan hati Kakang?”

“Dinda Sawitri, haruskah aku gelisah saat istriku selalu ada disampingku?”

“Terimakasih Kakang. Tetapi, apakah Kakang Setiawan mengetahui apa yang bakal terjadi lima hari ke depan?”

“Aku tahu Dinda, bukankah para brahmana suci telah meramalkan bahwa umurku akan segera berakhir?”

“Oh, Kakang”

Sawitri mengeluh lirih sembari membenamkan wajahnya di dada Setiawan.

“Tidakkah engkau takut akan kematian itu, Kakang?”

“Kenapa harus takut, Dinda. Bukankah kematian adalah sarana untuk memasuki kehidupan abadi yang membahagiakan? Jika nanti dewa pencabut nyawa  tiba untuk mencabut nyawaku, aku akan tersenyum tanpa kebencian agar senyumkulah yang diabadikan. Selain itu, aku juga ingin menghadapi kematian dengan membaringkan kepalaku di pangkuanmu, dengan penuh cinta dan kedamaian agar cinta kita berdua diabadikan.

Sawitri, bagiku engkau adalah wanita sempurna di dunia ini. Karena cinta dan kesetiaan yang engkau hidupi, hidupku menjadi damai dan bahagia. Kematian adalah saat damai dan kebahagiaan yang kita punya, diabadikan.” 

 “Jika demikian, kita akan memasuki gerbang kematian bersama-sama,” kata Sawitri.

“Tidak, Sawitri, setiap orang mempunyai saat serta cara kematian yang berbeda-beda.”

“Jika demikian, kita akan berpisah, Kakang.”

“Iya, Sawitri. Kematian telah memisahkan raga kita, tetapi kematian tidak memisahkan cinta dan kesetiaan kita. Kematian justru mengabadikan cinta dan kesetiaan kita.”

Sawitri tercenung sejenak. Dirinya tidak membayangkan bahwa Setiawan mempunyai pemahaman sedalam itu. Jika sebelumnya Sawitri dapat melepaskan segala kemewahan duniawi, untuk menemukan Setiawan, sang mutiara yang ada di belik, kini Sawitri kembali ditantang dan diuji apakah dirinya benar-benar rela melepaskan mutiara itu kepada Sang Dewa Maut?

Rupanya Sawitri sangat cemas dengan kematian Setiawan. Jika benar hidup suaminya diakhiri, lalu apalah arti perkawinan ini? Tidak ada sesuatu yang ditinggalkan untuk orang lain. Nilai-nilai luhur yang dihidupi serta diteladankan tidaklah cukup karena akan segera dilupakan. Namun, lain halnya jika perkawinan ini telah menghasilan benih kehidupan baru. Keturunannya itulah yang akan meneruskan serta menghidupi nilai nilai luhur yang diwariskan.

Atas dasar itulah Sawitri memberanikan diri untuk mengadu kepada Sang Penguasa Kehidupan agar menunda kematian Setiawan.

“Ah, aku tidak akan menyerah dengan kodrat. Pasti ada pertolongan,” gumam Sawitri.

Demi tujuan itu, selama lima hari Sawitri tanpa putus berdoa, bermatiraga, dan berpuasa sebagai sebuah laku untuk memohon pertolongan agar diberikan jalan terbaik bagi mereka berdua. (bersambung)

Gonjang-Ganjing Kesetiaan 12

  • 0























JANJI SETIA yang diucapkan dalam perkawinan sesungguhnya tidak hanya demi dan untuk pasangannya, tetapi juga kepada mereka yang datang dengan doa dan kepada seluruh alam semesta .
cat minyak pada kanvas
215 cm x 130.5 cm
Herjaka HS 2018

 Sawitri Oh Sawitri
 herjaka HS
 (12) Mandaraka Bersuka-cita

Perkawinan adalah upacara bersama merayakan dua hati yang berpadu untuk melahirkan sebuah benih kehidupan baru. Oleh karena itu, upacara itu tidak bisa dilakukan sendirian, perlu melibatkan banyak orang. Sawitri menginginkan upacara perkawinannya digelar secara besar-besaran.
Besar bukan berarti banyaknya tamu yang diundang, terutama orang-orang besar. Atau besar dalam ukuran biaya yang dikeluarkan. Tetapi besar yang dikehendaki Sawitri adalah besar karena melibatkan seluruh kawula Mandaraka.
Dengan bermodal cinta serta niat suci nan luhur, upacara perkawinan pun terselenggara dengan agung dan sakral. Sukacita pengantin adalah sukacita mereka.   Dengan demikian, pesta perkawinan ini menjadi milik mereka. Semua berpesta, semua bersukaria. Rajalah yang menanggung semuanya. Kemaharajaan adalah  memberi, bukan meminta. Kemuliaan adalah melayani, bukan dilayani. Keluhuran adalah menghargai, bukan dihargai. Kewibawaan adalah menghormati, bukan dihormati.
Perkawinan agung itu semakin mengukuhkan bahwa negara Mandaraka adalah negara yang besar, kuat, subur, makmur, tenteram, dan damai. Gemahripah lohjinawi tata titi tentrem kertaraharja.
Setelah keduanya resmi menjadi suami istri, Sawitri diboyong Setiawan ke pertapaan Arga Kenanga
Jika Sawitri merasa bahagia saat meninggalkan kerajaan untuk hidup berdampingan dengan Setiawan, tidak demikian halnya dengan mereka yang ditinggalkan. Ada keraguan dihati Prabu Aswapati dan Ibunda Ratu apakah Sawitri bisa hidup bahagia. Bukankah sejak lahir Sawitri telah hidup dalam gelimang harta duniawi? Bisakah ia hidup bahagia di dunia ini dengan melepaskan pangkat, derajat, serta harta benda?
Seperti halnya sebuah tandu, kemewahan duniawi akan mengangkat tinggi-tinggi seseorang agar ia tidak menapaki jalan kehidupan yang terjal dan tajam sehingga kakinya yang lunak dan halus tidak terantuk batu tatkala tandu kerajaan yang seharusnya menandu Sawitri dibiarkan teronggok di keputrian. Sawitri dan Setiawan telah bertekad bulat, ingin merasakan jalan hidup mereka dengan kaki telanjang. Bagaikan anak panah melesat dari busurnya, Sawitri bersama suaminya meninggalkan kotaraja Mandaraka, dengan menyisakan kekhawatiran besar pada kedua orang tuanya. (bersambung)