HARI FITRI

  • 0




























Jika sebelumnya, yang senyatanya bersalah pun enggan mengakui kesalahannya, namun di hari fitri ini, yang tidak bersalah secara langsung pun pada berebut meminta maaf, mengakui kesalahannya.
Selamat Idul Fitri.
mohon maaf lahir batin

KESEDHIHAN SEMAR

  • 0


































Sebagai pamomong sepanjang jaman, Semar menangis merasakan sesama saudara yang diemongnya saling menghujad dan membenci gara-gara sebuah kekuasaan. 

tinta on paper
60 x 50 cm
karya herjaka HS 2014

MEWARISKAN KESETIAAN

  • 0









































Mewariskan kesetiaan untuk menjaga agar sawah tetap hijau dan menghasilkan buah melimpah.
oil on canvas
110 x 90 cm
herjaka HS 2018

Gonjang Ganjing Kesetiaan 19 (tamat)

  • 0































Semoga kami selalu sehat walafiat dan bersama-sama mencapai umur panjang
35 x 25cm
mix media di atas kertas
Herjaka Hs 2018

Sawitri Oh Sawitri 
Herjaka Hs


(19) Tanda Kematian



Ah, itu masa lalu. Bukankah aku telah berhasil membahagiakan orang yang aku cintai? Jika aku dapat membahagiakan orang yang tidak setia seperti Dewi Mumpuni, kenapa tidak tergerak hatiku untuk membahagiakan orang yang setia seperti Sawitri?

Pandangan Hyang Yama kembali pada Sawitri yang sedang mencium jubahnya.

“Sawitri, lihatlah! Aku kembalikan nyawa Setiawan.”

Dengan menjulurkan tangannya, nyawa Setiawan telah kembali  ke badanraga yang tergeletak di rerumputan. Dan seketika itu juga Setiawan hidup kembali. Sawitri berlari menghampiri suaminya, memeluk dan menciumnya berkali-kali dengan penuh syukur dan sukacita.

Setelah menyadari apa yang terjadi, Setiawan dengan didampingi Sawitri  menghampiri Hyang Yama, melakukan sembah serta mengucap syukur dan terimakasih.

“Hyang Yama, selain bertugas sebagai dewa pencabut nyawa, ternyata Hyang Yama juga mempunyai kuasa untuk mengurungkan kematian seperti yang terjadi pada Kakang Setiawan”

“Benar, Sawitri. Jika tujuannya demi kebahagiaan serta keselamatan manusia, apa pun bisa aku putuskan, termasuk keputusanku untuk menghidupkan kembali Setiawan.

Ketahuilah, Sawitri, tugas utamaku adalah membawa manusia kedalam kebahagiaan abadi melalui pintu kematian.  

 Oleh karena itu aku ingin agar pada saat aku datang mencabut nyawa manusia, aku mendapati manusia dalam keadaan bersih, suci, dan damai, sehingga dengan demikian di alam keabadian manusia tersebut akan menikmati damai abadi, bernyanyi dan bersorak sorai, bersukacita meluhurkan namaNya.  Tidak ada lagi jeritan-jeritan yang menyayat hati di api abadi. 

Maka dari itu, aku telah memberi tanda-tanda datangnya kematian pada manusia yang bersangkutan, mulai dari tiga tahun hingga  satu jam sebelumnya.

Memang pemberitahuan itu tidak secara gamblang, melainkan melalui pertanda dan perlambang, baik melalui pertanda alam, mau pun melalui pertanda kehidupan.

Ingatlah akan tanda-tanda ini. Jika sering merasa capai serta bosan dengan kehidupan  dunia, sering bermimpi pergi kearah utara, dan hidupnya seperti dilulu itu pertanda bahwa umurnya tinggal tiga tahun.

Jika rindu dengan teman atau saudara yang sudah meninggal, sering bermimpi memperbaiki rumah, dan mempunyai perilaku yang berbeda dengan sebelumnya, pertanda bahwa umurnya tinggal dua tahun.

Jika sering melihat sesuatu yang gaib, dan mempunyai perilaku yang berkebalikan dari biasanya, pertanda bahwa umurnya tinggal satu tahun.

Jika sering mendengar suara yang tidak kelihatan, atau suara binatang yang belum pernah tahu sebelumnya, pertanda bahwa umurnya tinggal enam bulan.

Jika jari-jari tangan ditempelkan di dahi, dan dipandang dalam waktu tiga menit, pergelangan tangan kelihatan semakin kecil dan akhirnya putus dengan telapak tangan, pertanda bahwa umurnya tinggal satu bulan.

Jika melihat wajahnya sendiri pertanda bahwa umurnya tinggal setengah bulan.

Jika sudah tidak berminat makan dan tidur, pertanda bahwa umurnya tinggal satu minggu.

Namun demikian, sangat sedikit orang yang dapat membaca tanda-tanda yang dikirimkan. Jika pun ada yang mampu membaca pertanda, biasanya mereka abaikan, karena pada dasarnya orang takut menghadapi kematian, takut berjumpa denganku, sehingga tanda-tanda mengenai kematian akan disingkirkan jauh-jauh.”

Sawitri membenarkan, karena dirinya pernah mengalami. Ketika para brahmana suci istana meramalkan umur Setiawan, yang waktu itu ia pilih untuk menjadi suaminya tinggal satu tahun, ia berusaha untuk mengabaikan ramalan itu.

“Hyang Yama apakah semua orang engkau beri tanda yang sama, mulai dari tiga tahun sebelum kematian?”

“Iya Sawitri, untuk kematian secara wajar, yaitu mati kersaning Gusti.”

”Mati  secara wajar? Apakah ada kematian yang tidak wajar? Mati yang tidak dikersake Gusti?.”

“Ada, Sawitri. Selain mati kersaning Gusti ada mati salahe dhewe dan mati begalan.

Mati salahe dhewe adalah bunuh diri, sengaja makan dan minum yang dapat merusak tubuh dan menjadi pantangannya, sakit tidak diobati, terlalu lelah dan mati karena kesalahan-kesalahan yang lain, termasuk kesalahan dalam menjaga serta memelihara lingkungan. Sedangkan mati begalan adalah mati karena dibunuh, diguna-guna, di tenung, kalap, kesambet, dicelakai dan sebagainya.       

Kedua kematian tersebut sesungguhnya kematian yang belum sampai pada waktunya.”

“Hyang Yama, walaupun seseorang mendapat celaka, mencoba bunuh diri, dan menjadi sasaran pembunuhan, jika belum menjadi kehendak-Nya, bukankah orang itu akan selamat?”

“Benar, Sawitri, Sang Hyang Mahakuasa selalu menawarkan keselamatan, tetapi itu pun kalau manusia menginginkan keselamatan. Kalau tidak?”

“Apakah ada orang yang tidak menginginkan keselamatan?”

“Sawitri, Sawitri apakah kamu tidak melihat begitu banyak orang yang menolak keselamatan dengan menebar celaka di mana-mana?

Semenjak adanya kematian, manusia selalu menjadi rebutan antara yang menyelamatkan dan yang mencelakakan. Jika tidak berpegang erat pada keselamatan, manusia akan mudah jatuh dan direbut ke dalam celaka. 

Jika akhirnya manusia sengaja melepaskan atau terpaksa melepaskan keselamatan yang ditawarkan, Sang Hyang Pencipta akan membiarkannya, karena hal tersebut telah menjadi pilihannya sendiri. Sebagai ciptaan tertinggi yang dicitrakan selaras dengan Sang Pencipta, manusia bebas untuk menentukan pilihannya. Saking bebasnya, kadang-kadang manusia memilih seakan-akan sebagai Sang Pencipta itu sendiri. ”

 “Mengapa bisa demikian Hyang Yama. Bukankan rencana Sang Hyang Mahakuasa untuk sebuah kematian sifatnya pasti, tidak dapat ditunda atau pun  diajukan sedetik pun oleh manusia?” 

“Siapa bilang Sawitri? Hyang Mahakuasa memang tahu segalanya, tentang kematian, kapan saatnya, dan apa penyebabnya. Namun Sang Mahakuasa tidak pernah merencanakan kematian bagi manusia. Kematian adalah pilihan manusia, sebagai upah dari dosa. Dihadapan Sang Pencipta kematian itu tidak ada. Yang ada adalah kehidupan dan kehidupan kekal.

Sejak awal mula manusia diciptakan, Sang Hyang Maha Pencipta memberikan serta merencanakan yang terbaik untuk manusia. Tetapi nyatanya manusia telah memilih jalannya sendiri, yaitu jalan kematian.

Dikarenakan kematian telah dipilih manusia, Sang Hyang Mahakuasa menjadikan kematian sebagai salah satu jalan untuk menyelamatkan manusia. Melalui kematian, orang benar akan dientaskan dari orang-orang durhaka. Dan melalui tanda-tanda datangnya kematian, orang-orang durhaka diajak menghentikan  kedurhakaannya, sehingga menjadi bersih dan suci jika kematian menjelang.

Kematian yang menjadi tanggung jawabku adalah kematian yang ditawarkan oleh Sang Hyang Mahakuasa, kematian yang menyelamatkan. Tetapi, apa mau dikata, ketika manusia memilih kematian dengan caranya sendiri, dengan pilihannya sendiri,  itulah kematian yang tidak wajar, karena terjadi di luar rencana-Nya. “

“Benarkah begitu?”

“Benar Sawitri, tak terhitung jumlahnya orang yang mati sebelum saatnya. Mereka mendatangi aku sebelum aku mencabut nyawanya.”

 “Lalu bagaimana nasibnya manusia yang mati belum saatnya?” tanya Sawitri.

“Baik mereka yang mati kersaning Gusti, mati begalan, atau pun mati salahe dhewe, yang sampai di hadapan Sang Pencipta akan  di tangani pasukanku, makhluk Kingkara. Mereka dibawa dengan mulut atau digondol untuk dimasukan ke dalam api.”

“Ha? Masuk neraka?”

“Bukan neraka, Sawitri, namanya api pen yucian, tempat untuk membersihkan para suksma dan jiwa. Ibarat emas yang dibakar dalam api, orang yang suci akan bersinar cemerlang sehingga layak dan pantas untuk berdiam di kedamaian abadi.”

“Bagaimana dengan orang yang tidak suci Hyang Yama?”

“Ibaratnya, mereka tidak mempunyai kandungan emas sehingga, walaupun dibakar hingga ribuan tahun, jiwanya tidak akan pernah bersinar.”

Sawitri mengangguk-angguk. Mungkin itulah yang disebut neraka, tempat para jiwa yang sudah kehilangan kandungan emas.

“Emas” pemberian Sang Maha Pencipta telah ditukargadaikan dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi, sehingga pada saat menghadap Sang Pencipta, ia tidak mempunyai emas lagi.

Setelah dirasa telah cukup menjawab dan menerangkan apa yang menjadi pertanyaan Sawitri, Yamadipati memandangi Setiawan dan berkata,

“Setiawan, karena kesetiaan istrimu dan belas kasih dari Hyang Mahakuasa, engkau masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup di dunia ini. Aku percaya bahwa bersama Sawitri engkau mampu mempertahankan kandungan emas dalam hatimu dan mewariskannya kepada keturunanmu kelak, sehingga jika tiba saatnya, jiwamu akan bersinar terang di keabadian.

Aku berharap agar engkau dapat menjadi suri teladan bagaimana seharusnya menghidupi sebuah kesetiaan hingga ajal menjemput.”

Setelah berkata demikian, Yamadipati diam. Rupanya sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan kepada Sawitri dan Setiawan. Matanya yang tajam tetapi teduh memandangi Setiawan dan Sawitri yang bersimpuh di hadapannya. Perlahan-lahan ia membalikkan badannya dan segera lenyap dengan menyisakan asap merah.

Dalam hidupnya, Yamadipati tidak pernah mendapatkan kebahagiaan seperti Setiawan dan Sawitri. Namun, ia cukup terhibur jika dapat memberikan kebahagiaan, tidak saja kepada Sawitri yang setia kepada suaminya, tetapi juga memberi kebahagiaan kepada Dewi Mumpuni, isteri yang telah mengkhianati dirinya.

Sawitri dan Setiawan saling perpandangan, untuk kemudian saling berpelukan sangat erat seakan-akan tidak mau dipisahkan.

Dengan penuh syukur dan sukacita mereka kembali ke rumah mereka  di Arga Kenanga.  Keduanya membawa kayu hutan yang telah dikumpulkan. Bagaikan merenda masa depan, kaki mereka menapaki bumi yang memberi kesetiaan, dan wajah mereka menatap langit yang memberi keadilan.

Di ujung jalan, tampaklah pintu gerbang Arga Kenanga yang telah lama tidak terlihat karena mata dan hati yang sedang menderita kebutaan.  Kini semuanya digelar kembali dan menjadi benderang.

Dengan mengenakan pakaian kebesaran raja, Jumatsena menanti di gerbang megah. Wajahnya berseri bahagia. Ia mengulurkan kedua  tangannya untuk memeluk anak dan menantunya,  karena merekalah yang telah menemani perjalanannya di lorong yang gelap dan panjang. Dan kini semuanya telah berlalu dan menjadi indah pada waktunya.

Tepuk tangan para pengawal raja serta kawula Arga Kenanga menambah rasa haru dan sukacita mereka.

“Mimpikah ini?” gumam Sawitri

Bukan! Ini adalah kenyataan. Untaian butir-butir mutiara kesetiaan yang dikumpulkan dalam laku sengsara tanpa desah.

Tidak ada sesuatu yang mustahil di hadapan Sang Penguasa Hidup.

(TAMAT)



Cerita diambil dari lakon pedalangan yang bersumber pada kakawin minor Mahabharata



Februari 2018

Tembi Rumah Budaya Yogyakarta  


Gonjang-ganjing Kesetiaan 18

  • 0









































Gerbang Keabadian
oil on canvas
90 x 85cm
herjaka Hs 2018

Sawitri Oh Sawitri
herjaka Hs 


(18) Pengorbanan

Sebagai seorang bidadari yang sudah diupacarakan menjadi istri Yamadipati seharusnya Dewi Mumpuni tidak bisa seenaknya memperlakukan suaminya, kendati hatinya tidak mencinta. Karena hal itu sama saja dengan mengkhianati perintah penguasa tunggal Kahyangan.
Jika Yamadipati melaporkan hal itu kepada Batara Guru, pasti Dewi Mumpuni akan dikutuk.  Namun, hal itu tidak dilakukannya, karena Yamadipati sangat mencintai Dewi Mumpuni. Ia tidak rela jika sosok yang dicintainya tersebut celaka.
Sementara itu Dewi Mumpuni sendiri bukannya tidak tahu akan hal itu, tetapi bagaimana lagi dirinya harus bersikap ketika menghadapi dunia nyata berkebalikan dengan apa yang ada dalam hatinya. Ia telah mencoba membangun cinta kepada suaminya, tetapi mulai dari mana? Jika mulai dari tata lahir, bagaimana mungkin dirinya dapat mencintai sosok wajah yang mengerikan dan menakutkan itu? Namun jika  mulai dari tata batin, dari kesabaran serta kelembutan hatinya, ia tidak punya cukup waktu untuk merasakan selapis demi selapis kedalaman hatinya mengingat tugas yang diemban Yamadipati.  
Memang, kebanyakan orang, termasuk Dewi Mumpuni tidak dapat mencintai yang batiniah saja. Ia membutuhkan yang lahiriah pula. Bahkan, tidak hanya membutuhkan, melainkan mengutamakan yang lahiriah.  Ya wajahnya, ya postur tubuhnya dan juga penampilannya.  Sangatlah jarang seseorang dapat mencintai hatinya tanpa harus melalui wajah tubuhnya. 
Karena tidak berhasil mencintai Yamadipati, Dewi Mumpuni pun akhirnya pasrah. Ia memutuskan untuk mengatakan terus terang kepada suaminya dan siap menanggung semua akibatnya.
Setelah kesempatan didapat, Dewi Mumpuni menuturkan bahwa dirinya tidak pernah mencintai Yamadipati. Bahkan, ia takut hidup serumah dengannya. Hati Dewi Mumpuni  menjerit pilu tatkala dirinya layaknya sebuah barang, dihadiahkan sebagai triman oleh Batara Guru kepada Yamadipati.
Diungkapkan pula bahwa sebelumnya, dirinya telah mencintai Bambang Nagatatmala, putra Sang Hyang Antaboga, dewa penguasa bumi. Kepada dialah hatiku telah tertambat.
Dewi Mumpuni pun berterus terang, tanpa tedheng aling-aling, tidak ditutup-tutupi,  bahwa Bambang Nagatatmala adalah satu-satunya orang yang diharapkan bisa membahagiakan Dewi Mumpuni. Tetapi, ia juga menyadari bahwa Yamadipati adalah satu-satunya orang yang dapat menyelamatkan Dewi Mumpuni dari kutukan Batara Guru.
Karena jika Yamadipati merelakan serta merestui hubungan Dewi Mumpuni dengan Bambang Nagatatmala, Batara Guru tidak akan murka, karena semenjak Dewi Mumpuni di-triman-kan,  hak sepenuhnya ada di tangan Yamadipati.
Mendengar pengakuan Dewi Mumpuni  yang jujur, Yamadipati tidak marah. Hatinya tersentuh oleh belas kasihan.
Memang begitu besar cinta Yamadipati  kepada Dewi Mumpuni. Dirinya sangat bahagia  bersanding dengannya. Namun kebahagiaan Yamadipati sangat bergantung pada Dewi Mumpuni. Jika Dewi Mumpuni tidak bahagia, apakah Yamadipati  dapat  bahagia sendirian?
Tentunya tidak. Yamadipati hanya akan bahagia jika Dewi Mumpuni pun bahagia. Namun, sayang kebahagiaan Dewi Mumpuni tidak ada pada Yamadipati, melainkan ada pada Bambang Nagatatmala.
Lalu, bagaimana Yamadipati harus memutuskan sikap? Jika kebahagiaan yang menjadi pertimbangan utama, tentunya Yamadipati akan berupaya mempertahankan Dewi Mumpuni tetap menjadi istrinya agar dirinya bahagia.
Tetapi sesungguhnya bukan kebahagiaan yang menjadi tujuan utamanya, melainkan cinta. Ya, cintalah yang telah menggerakkan hati untuk mau berkorban demi kebahagiaan orang yang dicintai.
Yamadipati ingin agar orang yang dicintai bahagia, walaupun harus mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri.
Berdasarkan cinta tersebut, akhirnya Yamadipati memutuskan untuk merelakan dengan ikhlas Dewi Mumpuni meninggalkan dirinya dan hidup bahagia bersama Bambang Nagatatmala. (Bersambung)

Gonjang-ganjing Kesetiaan 17

  • 0










































Mahkluk Kingkara, pasukan pencabut nyawa
lukisan tinta pada kertas
35 x 50 cm
karya herjaka HS 2010


Sawitri Oh Sawitri

herjaka HS

(17) Bertepuk Sebelah Tangan



Dulu sewaktu masih muda, Yama dipati pernah jatuh cinta kepada bidadari Kahyangan yang bernama Mumpuni. Ia adalah bidadari yang hampir sempurna kecantikannya.  Tidak hanya Yamadipati, setiap orang maupun dewa tidak ada yang tidak terpana ketika melihat Dewi Mumpuni.

Setiap kali Yamadipati melihat Dewi Mumpuni, entah di paseban agung para dewa-dewi, atau dikesempatan lain,  hatinya berdesir dan jantungnya berdegup lebih cepat.  Namun, Yamadipati berusaha menyembunyikan gemuruh asmara yang ada dalam hatinya. Karena jika ketahuan, tentu dirinya menjadi sasaran olok-olokan.

Menyadari bahwa dirinya tidak sebanding jika bersanding dengan Dewi Mumpuni, maka diputuskan untuk mengubur cinta itu dalam-dalam. Rupanya hal itu tidaklah mudah, ia lupa bahwa cinta yang ditanam bukannya mati, tetapi akan bersemi dan tumbuh. Semakin dalam ditanam, semakin kuat mengakar.

“Baiklah jika demikian, cinta itu akan ku bakar, biar hangus jadi abu tanpa sisa,” katanya.

Tetapi, nyatanya cinta itu bahkan berkobar semakin besar,  menjilat-jilat, lola-laline dapat membakar diri sendiri hingga menjadi arang.

“Ah, tidak kuat aku menanggung segunung cinta atas Dewi Mumpuni.”

Maka kemudian diputuskan untuk berbagi beban dengan Batara Narada yang selama ini dianggap sebagai pengganti orang tuanya.

Batara Narada merasa iba mendengar penuturan keponakannya. Yamadipati harus diselamatkan. Jangan sampai jatuh teperdaya karena asmara. Karena jika hal itu terjadi, tugas-tugasnya dikhawatirkan bakal terganggu.

Oleh karena itu, pada suatu waktu, ketika Batara Guru ingin memberi penghargaan kepada Yamadipati karena telah menjalankan tugasnya dengan baik, Batara Narada dengan sertamerta mengusulkan agar Yamadipati diberi triman Dewi Mumpuni. Batara Guru setuju dengan usul patihnya. Maka, keduanya dipanggil pada upacara khusus. Batara Guru, sebagai raja Kahyangan, tempat para dewa-dewi, bersabda, dan menerimakan Dewi Mumpuni sebagai istri Dewa Yamadipati.

Tidak dapat diukur, betapa  besar sukacita Yamadipati mendapat triman Dewi Mumpuni.  Dalam hati ia berjanji akan mencintai Dewi Mumpuni dengan sepenuh hati.

Setelah menjadi suami istri, keduanya tinggal di Kahyangan Hargodumilah, yang sejuk damai. Tiada waktu berlama-lama, Yamadipati pun kembali melakukan tugas-tugas rutinnya. Jika tidak sedang mencabut nyawa dan menunaikan tugasnya di neraka, ia menyempatkan diri pulang ke rumah untuk menemui sang istri yang telah membelah jiwanya.

Ya, Yamadipati selalu rindu untuk pulang ketika merasa penat saat mengemban tugas. Ia ingin menemui istrinya untuk bersama-sama berada dalam selimut cinta, demi merasakan kehangatan jiwa dan kedamaian hati. Juga untuk mendapatkan gairah dan semangat baru dalam melanjutkan tugas-tugasnya.

Yamadipati memang tinggal satu rumah dengan Dewi Mumpuni. Tetapi mereka tidak menjadi satu hati. Ia tidak mendapatkan apa yang semestinya ia dapatkan dari pasangan hidupnya. Bahkan, semakin lama sikap dewi Mumpuni semakin dingin., sedingin makanan yang ia sajikan di meja.

Atas sikap Dewi Mumpuni tersebut, kesabaran Yamadipati pun diuji. Bagaimanakah ia harus bersikap menghadapi istrinya yang tidak mencintainya, bahkan cenderung takut terhadap dirinya.

Dikarenakan cintanya kepada sang istri terlalu besar, Yamadipati yang penyabar menjadi semakin bertambah sabar. Sebesar apapun kekecewaan yang didapat dari Dewi Mumpuni, lebih besar cinta dan kesabaran yang diberikan kepada Dewi Mumpuni.

Oleh karena itu untuk menghindari agar tidak terlalu banyak kekecewaan yang didapat, Yamadipati memutuskan untuk jarang pulang, karena jika kembali pulang sama halnya dengan menjilati ujung belati untuk merasakan darahnya sendiri, kepedihannya sendiri.

Langkah yang diambil Yamadipati tidak menjadikan Dewi Mumpuni menyadari kesalahannya dan kemudian membenahi diri sebagai istri, malahan dijadikan kesempatan untuk menjalin asmara dengan Bambang Nagatamala, putera Sang Hyang Antaboga, dewa penguasa bumi, yang tinggal di Kahyangan Sapta Pertala.

Sesungguhnya, jauh sebelum dijadikan triman, Dewi mumpuni telah mengagumi sosok Bambang Nagatatmala. Demikian pula sebaliknya. Rasa kagum itulah yang kemudian bertumbuh menjadi benih cinta. Walaupun belum sempat menyembul ke permukaan, benih itu masih hidup.

Keputusan Batara Guru memberikan triman Dewi Mumpuni kepada Yamadipati, tidak mengakibatkan benih itu mati. Bahkan, akarnya semakin kuat.  Baik Dewi Mumpuni mau pun Bambang Nagatatmala sama-sama merasakan bahwa tidak ada kebahagiaan yang bisa didapat di luar cinta mereka berdua. (bersambung)