Gonjang-Ganjing Kesetiaan 4

  • 0
































Dewa dan Dewi Cinta Abadi
lukisan cat minyak pada kanvas
70 x 60cm
karya herjaka HS 2015



Sawitri Oh Sawitri
Herjaka HS

(4) Jatuh Cinta?

Entah apa yang dirasakan mereka berdua. Namun bagi Sawitri, perjumpaan kali ini sungguh luar biasa. Belum pernah dirinya  mengalami hal seperti ini. Seluruh tubuhnya bergetar aneh. Rasanya dingin tetapi tidak menggigil. Panas, tetapi tidak kegerahan.
Demikian pula yang dirasakan Setiawan. Wanita di depannya ini sungguh cantik luar biasa. Matanya bening dan indah, membuat Setiawan enggan memutus tatapannya walau hanya sekejap saja. Baik Setiawan maupun Sawitri, keduanya saling mengagumi pada pandangan pertama.
Karena kuasa cinta, mereka menjadi lupa akan dirinya. Yang ada di hati serta pikiran mereka adalah orang yang ada di hadapannya. Bahkan, jika saat ini mereka berada di depan sebuah cermin, yang tergambar di dalam cermin bukanlah dirinya, melainkan orang yang sekarang ada dihadapannya.
Benarkah ini yang dinamakan jatuh cinta? Walaupun pada awalnya yang diutamakan Sawitri adalah kerendahan hati dan keluhuran budi, namun pada kenyataannya ketampanan Setiawanlah yang membuat hati Sawitri tertambat. Ketampanan pemuda berpakaian brahmana ini menjadi pintu utama untuk masuk dan mendapatkan nilai-nilai yang ia cari, yaitu keluhuran budi dan kerendahan hati.
Ketika Sawitri menanyakan apa yang ada dalam genggamannya, Setiawan pun bercerita bahwa ini adalah hati ikan untuk mengobati ayahnya yang buta. Cara pengobatannya cukup sederhana. Setelah dicuci, hati ikan dibakar sampai keluar minyaknya. Dengan minyak itulah setiap pagi dan sore Setiawan mengolesi kedua pelupuk mata ayahnya.
“Apakah ayahmu buta sejak lahir?”
 “Tidak Sawitri, ayahku buta sejak kerajaan ayahku direbut musuh”
“O, jadi ayahmu adalah raja?”
“Dulu, tetapi sekarang tidak. Setelah tragedi yang menggoncangkan itu, ayah memilih sendiri dikesunyian. Ia menjalani laku tapa dan puasa untuk memohon ampun atas dosa-dosanya.”
“Apakah ayahmu pernah melakukan kesalahan besar?”
“Tidak Sawitri, mungkin leluhurnya dahulu. Menurut ayahku, kakekku adalah seorang  penjudi yang tidak jarang merugikan banyak pihak, dan ayahlah  yang menanggungnya.”
“Apakah bisa begitu?”
“Aku kurang tahu, tetapi itulah yang dirasakan Ayah, bahwa tragedi yang menimpanya merupakan akibat dari dosa Kakek yang ditanggungkan kepada keturunannya. “
Sawitri mengangguk-angguk, mencoba memahami apa yang diceritakan Setiawan. Hubungan merekapun semakin akrab. Ada kecenderungan dari masing-masing pribadi untuk tidak mengecewakan lawan bicaranya. (bersambung)
Maka ketika Setiawan menawarkan agar Sawitri mau singgah di rumahnya untuk menengok ayahnya yang sakit, Sawitripun tak kuasa menolak. Apalagi dalam penggembaraannya ini Sawitri sudah bertekad melakukan tapa ngrame bersedia menolong siapa saja yang membutuhkan. (bersambung)   

No comments: