Gonjang- Ganjing Kesetiaan 6

  • 0


























Bulan tampak bersinar karena kegelapan. Semakin gelap keadaannya, akan semakin terang Bulan itu bersinar. Namun sesungguhnya kehadiran Bulan tidak untuk kegelapan, melainkan untuk anak-anak terang, agar mereka mampu bangkit untuk mengusir kegelapan.

lukisan tinta pada kertas
50 cm x 35 cm
karya Herjaka HS 2016



Sawitri Oh Sawitri

herjaka HS


(6). Menjadi Cahaya
 
Hampir satu bulan Sawitri merawat Begawan Jumatsena. Tidak hanya mengobati matanya secara rutin dengan minyak hati ikan tetapi juga mencoba memulihkan jiwanya yang tanpa asa, karena sesungguhnya kebutaan mata Begawan Jumatsena berkaitan erat dengan keterpurukan jiwanya.
“Begawan Jumatsena apakah rasa sakit pada bola mata Begawan semakin berkurang?”
“Iya Sawitri, mataku tidak gelap pekat lagi. Sinar mentari mulai menembus bola mataku.”
“Syukurlah, itu pertanda bahwa Begawan telah memulai dengan cahaya pengharapan baru.”
“Benar Sawitri, dan cahaya itu adalah engkau sendiri. Sejak engkau merawatku aku jadi bersemangat untuk sembuh.”
“Janganlah berlebihan Begawan. Bukankah sebelumnya  Setiawan telah melakukan apa yang aku lakukan?”
“Itu tidak salah Sawitri. Tetapi, Setiawan adalah anakku, ia juga menderita, bahkan mungkin lebih menderita dari pada aku. Bagaimana mungkin orang yang menderita menyembuhkan orang lain yang menderita? Paling-paling yang bisa dilakukan hanyalah saling menghibur dan menguatkan.
Lain halnya dengan engkau, Sawitri. Engkau orang lain yang belum mengenal aku sama sekali, kecuali penderitaanku. Jika kemudian engkau mau masuk dan mengalami penderitaanku, bukan berarti bahwa engkau ingin menderita, tetapi engkau ingin mengentaskan aku dari penderitaan itu. Oleh karenanya, sebagai orang yang tidak menderita engkau tahu persis bagaimana    caranya menyembuhkan penderitaanku ini.”  
Sawitri mengangguk-angguk walaupun tidak sepenuhnya membenarkan pendapat Jumatsena,
“Begawan, apakah Setiawan sering meluangkan waktu untuk ngobrol seperti ini?”
“Tidak, Sawitri, sepertinya ia asyik dengan dirinya sendiri. Mungkin itulah cara dia bertahan dalam penderitaan. Sepertinya ia tidak mengusir penderitaan itu melainkan justru menikmati penderitaan itu. Lain halnya dengan aku. Aku mengaku kalah dengan penderitaan itu, sehingga cenderung nglokro dan putus asa.
Namun, kini setelah engkau hadir diantara kami, barulah terbuka mataku bahwa mengalah dengan penderitaan seperti aku maupun menikmati penderitaan seperti Setiawan itu tidak benar. Penderitaan itu harus dilawan, dienyahkan dari kehidupan kita.”
“Benar Begawan, karena jika dibiarkan, penderitaan itu bakal menggerogoti hidup kita.”
“Tetapi jika tidak dibantu oleh orang lain yang tidak menderita, seseorang yang menderita tidak mempunyai kekuatan untuk melawan penderitaan itu.”    
“Tepat Begawan. Sesungguhnya tidak hanya yang menderita, yang tidak menderita pun saat penderitaan itu datang, tidak mempunyai kekuatan yang  cukup untuk menghalau penderitaan tersebut. Hanya satu kekuatan yang dapat menguasai penderitaan itu, yakni Sang Hyang Mahakuasa.”
“Aku paham bahwa penderitaan itu berada dalam kuasa-Nya, dan dengan penderitaan itu Hyang Mahakuasa menguji manusia. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah,  jika aku tidak lulus dalam ujian itu dan bahkan hancur oleh penderitaan yang dicobakan, lalu siapakah yang disalahkan?”tanya Begawan
“Begawan, menurut pemahamanku penderitaan di dunia ini bukan berasal dari  Hyang Mahakuasa, tetapi penderitaan itu digunakan oleh Sang Mahakuasa untuk menjadikan manusia dekat dan bergantung kepada-Nya, tahan uji, tekun serta berpengharapan.”
Begawan Jumatsena diam. Kata-kata Sawitri telah menyentuh dasar hati.  Ada energi pengharapan yang semakin besar, dibarengi dengan munculnya cahaya temaram di bola matanya. Siapakah Sawitri itu sesungguhnya, pastilah bukan warga kota biasa seperti pengakuannya. Jangan-jangan ia seorang brahmacari  atau putri raja, kata Jumatsena dalam hati. (bersambung)

No comments: