SAWITRI

  • 0
























Nyawa Setiawan sudah berada di tangan Hyang Yamadipati, dewa pencabut nyawa. Namun Sawitri tidak mau menyerah, dengan segala laku ia memohon belaskasih kepada Dewa Kematian agar Setiawan suaminya dihidupkan kembali.

Media cat minyak pada kanvas

150 x 100 cm

karya herjaka HS 2016



Salah satu lukisan dalam Novel ‘Sawitri Oh Sawitri’ di launching dalam rangka pameran lukisan karya Herjaka HS dan pameran patung karya Pradipta (Adip) dengan tema Gonjang-ganjing Kesetiaan pada 14 Desember 2018 s/d 7 Januari 2019 di Tembi Rumah Budaya Joggjakarta. Dalam novel tersebut diceritakan bahwa kesetiaan yang dihidupi Sawitri adalah kesetiaan yang utuh dan tuntas. Utuh karena tidak mendua dan tuntas karena sampai dengan selesai.

Menurut kamus Baoesastra Djawa WJS Poerwadarminta, Setya artinya tansah mantep ing pasuwitane, ora gelem nglungani sing disuwitani senadyanta wis ora ana pamrihe. Berdasarkan maknanya, setya, setia itu mempunyai dua sifat yaitu utuh dan tuntas, seperti yang di lakukan Sawitri.

Setiap orang dapat melakukan seperti yang dilakukan Sawitri. Seorang abdi negara misalnya, dapat dikatakan setia jika ia melayani dengan baik, adil dan tidak korupi sampai masa pensiun.

Kesetiaan ibarat kandungan emas yang dianugerahkan kepada manusia. Emas itu akan tetap kuning bercahaya walaupun berada di comberan. Ia tidak larut dalam air dan semakin bersinar di dalam api.  Seorang manusia dapat dikatakan setia ketika  manusia tersebut sampai pada akhir hidupnya masih menyimpan dan menjaga kandungan emas yang dianugerahkan, tidak menukargadaikan dengan hal-hal kenikmatan duniawi.

Gonjang - Ganjing kesetiaan adalah perjuangan dalam mempertahankan kandungan emas yanga ada. Karena emas itu anugerah yang paling bernilai dalam hidup manusia, maka tidaklah mengherankan  jika banyak godaan dengan seribu iming-iming yang meggiurkan untuk merebut emas dari tangan manusia.      ,

Walaupun hidup manusia itu ada batasnya, keesetiaan itu sendiri  tidak ada batasnya. Ia hidup di masa lalu, di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Manusia yang menghidupi kesetiaan sampai di ujung hidupnya, niscaya ia bersama kesetiaannya bakal menembus waktu, hidup abadi dan bertemu dengan Yang Empunya Kesetiaan. Herjaka HS


No comments: