MEMBUANG REJEKI

  • 0


























SRI BUANG

oil on canvas, 
150 x 80cm, 
2010



Once upon a time, rice grains are complaining to Dewi Sri, the Godess of Rice.

“Oh Godess, we are so sad and hurt by the way the farmers harvest us. We are cut with sickle, hit to a log or being shattered using spiky wheel. That way, many of us are wasted and eated by birds instead. It is so different with the way of farmers in the old time. They used ‘ani-ani’ to cut the rice stem one by one, then put us mindfully to a bamboo basket carried on their back.”

“Yeah, nothing we can do. Time has changed,” said Dewi tried to comfort them.

“Maybe because many farmers sell their ricefields and many rice grains are wasted, we now need to import rice.”



 Suatu ketika butir-butir padi mengadu kepada Dewi Sri, yang adalah Dewi Padi.

“Dhuh Sang Dewi, kami sakit dan sedih karena cara petani memanen padi. Kami dibabad dengan arit, disabet-sabetkan pada kayu, atau dirontokkan dengan roda bergerigi, sehingga banyak diantara kami yang terbuang percuma dan dimakan burung.

Tidak seperti nenek moyang kami yang disayang petani. Dipanen dengan ani-ani satu tangkai demi satu tangkai, dimasukkan tenggok yang hangat dalam gendhongan.”

Yach bagaimana lagi jaman sudah berubah, hibur Dewi Sri. Mungkin karena banyak sawah dijual dan padi yang terbuang, kita perlu import beras.

Ke empat belas lukisan terdahulu dipamerkan di RIF 2019 untuk merayakan tiga K yaitu: KERAGAMAN, KEMITRAAN dan KEMAKMURAN di Chicago pada 13 Juli 2019.
dalam rangka memperingati 70 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Amerika   

No comments: